Genggam yang Menembus Angin
Genggam yang Menembus Angin Di awal, kau datang sebagai pagi yang paling tenang Membawa sejuk, meredam segala riuh yang gersang Kau memenuhi sudut mataku, menjelma menjadi ruang Tempat jiwaku yang lelah sempat merasa pulang. Kau sedekat embun di ujung jemari Mengaburkan jarak, memeluk sepi yang menyendiri Hadirmu adalah damai yang tak sempat kutawar Membuat rasa kagum ini tumbuh kian menjalar. Namun kini aku tersadar dalam sunyi yang paling berat Bahwa mencintaimu adalah seni meraba bayang-bayang sesaat Kau ibarat kabut yang mengepung seluruh pandangan Tampak begitu nyata, namun runtuh dalam genggaman. Setiap kali lenganku terbuka untuk mendekapmu Jemariku hanya menembus udara hampa yang semu Kau begitu dekat untuk bisa kurasakan Tapi terlalu jauh untuk bisa kupertahankan. Kini sejukmu telah berlalu, berganti dingin yang mengiris Meninggalkan basah di pipi dalam genangan gerimis Kau adalah keindahan yang singgah lalu menyisakan perih Sebab aku harus merelakan apa yang tak pernah bisa k...